Kembali

Fana

Karya: Sagita Novia Rohmadani

Segala perasaan, sejatinya ada untuk diungkapkan. Entah bagaimana reaksi semesta terhadapnya, yang jelas kita harus berani menerima. Karena satu-satunya yang kita punyai dalam hidup kita adalah keberanian.

Aku terduduk di senja yang mulai temaram. Menikmati kesunyian yang selalu aku rindukan. Perlahan, kupejamkan mataku. Kurasakan sapuan lembut angin ke wajahku. Sudut bibirku tanpa sadar membentuk setengah lengkungan—senyum. Tempat ini, suasana ini, sama sekali tidak berubah. Tempat di mana aku menyatakan perasaanku pada seorang perempuan. Gadis yang teramat sangat kucintai. Cinta memang sesuatu hal yang sakral. Apalagi cinta pertama, first time on sight. Kendatipun sudah bertahun-tahun lamanya, aku tidak pernah bisa melupakannya. Tidak akan pernah bisa melupakannya.

Segala perasaan, sejatinya ada untuk diungkapkan. Entah bagaimana reaksi semesta terhadapnya, yang jelas kita harus berani menerima. Karena satu-satunya yang kita punyai dalam hidup kita adalah keberanian. Apapun yang terjadi dalam hidup kita adalah rencana Tuhan yang ujungnya tak dapat disangka. Sehebat apapun kemampuan manusia untuk memperkirakannya, mereka tidak akan pernah bisa lari dari ketetapan-Nya. Que sera sera, whatever will be, will be.

Anganku masih terus menerawang jauh, membayangkan sosok yang selalu kurindukan. Dia yang sekarang sudah bukan milikku. Sudah berada jauh, jauh dariku. Tidak bisa lagi kupeluk dan kusalurkan rindu menggebu yang perlahan membunuhku.

Saat pertama kali bertemu dengannya. Saat itu juga aku mulai jatuh cinta. Ada getaran rasa yang tak bisa aku jelaskan. Bukan sulit tapi rumit, kompleks. Detik ketika mata kita bertemu, aku telah memutuskan bahwa kebahagiaanku ada bersamanya. Dan saat itu juga kuputuskan bahwa tujuan hidupku adalah bersanding dengannya.

Kala itu, di tempat ini. Aku duduk bersandingan dengan seorang gadis yang aku cintai, Nara. Aku memakaikannya sebuah cincin dari rerumputan yang kurangkai melingkar. Kupasangkan cincin rumput itu di jari manisnya. “Kamu suka?” tanyaku setelah cincin itu selesai kupasangkan. Ia mengangguk anggun.

“Nara, sebenarnya aku sudah sejak lama menyukaimu. Aku sudah sejak lama ingin bersanding denganmu. Aku ingin agar aku dan kamu menjadi kita. Maaf, aku tidak pandai merangkai kata-kata. So, would you be mine?” kataku dengan canggung kala itu. Nara menatapku nanar, kemudian aku melihat pipinya bersemu merah.

Aku menggenggam jemarinya, “Untuk kali ini saja, tolong jangan biarkan usahaku sia-sia”, ucapku. Perlahan, Nara menganggukan kepalanya. Senyuman terlukis di wajahnya ketika aku melonjak kegirangan. “Jadi itu artinya sekarang kita jadian?”, tanyaku. Nara mengangguk sekali lagi. Pipinya semakin bersemu merah. Perasaanku membuncah. Aku berada di puncak kebahagiaanku.

Sejak saat itu, kami sering menghabiskan waktu bersama. Terutama di tempat ini. Tempat yang sunyi dan indah. Tempat di mana kita bisa dengan nyaman mengutarakan perasaan kita masing-masing. Nara pun menjadi lebih sering tertawa lepas. Ia tampak lebih bahagia sepertinya. Kami sering bercanda ria sembari mengobrol di rooftop sekolah. Di sana kami bisa melihat pemandangan di bawah dengan leluasa.

Kadang aku menemaninya pergi ke toko bunga, membeli sekuntum bunga favoritnya—mawar putih. Atau pergi ke pasar malam dan menaiki komidi putar dengan bahagia. Seolah-olah dunia hanya milik berdua. Ya, begitulah perasaan anak muda yang sedang dirundung asmara. Cenderung hanya memikirkan hal-hal yang bahagia. Tapi tidak bisa disalahkan juga, karena memang begitulah adanya.

Sampai suatu hari, ketika kita bertandang ke tempat ini lagi, dia tiba-tiba menatapku sendu. “Arai, kalau seandainya aku pergi, apa kamu akan tetap setia menungguku?”, tanyanya lembut. Aku memandang wajahnya yang menyiratkan kesedihan, entah apa yang dipikirkannya sekarang. Nara yang biasanya tampil bahagia kali ini tampil dengan gurat kesedihan.

Aku mengangguk, “Tentu saja aku akan menunggumu.”

“Bagaimana kalau nanti aku tidak akan kembali?”, tanyanya lagi. Kali ini aku bisa melihat matanya berkaca-kaca. Butiran bening perlahan jatuh dari pelupuk matanya.

“Apa maksudmu? Aku sama sekali tidak mengerti” ucapku bingung.

“Sudah, jawab saja pertanyaanku” katanya sekali lagi. Aku menatap wajahnya. Kurapikan helaian rambutnya yang agak berantakan. Kemudian kusejajarkan wajahku dengan wajahnya.

“Aku akan tetap menunggumu” ucapku pelan.

“Sampai kapan?” tanyanya masih dengan raut wajah sendu.

“Entah, selamanya mungkin” jawabku.

“Nara, jangan tanyakan itu lagi” lanjutku. Nara menghapus airmata yang sempat menghujani pipinya. Kemudian ia tersenyum. Setelah itu ia tidak mengatakan apa-apa lagi. Kami hanya duduk-duduk sembari menikmati waktu yang bergulir cepat. Tampaknya ia ingin menikmati momen bersamaku sebanyak-banyaknya. Aku terdiam. Aku juga ingin.

Ternyata, hari itu adalah hari terakhir kebersamaan kami. Sebelum akhirnya, ia pergi jauh dariku. Nara menghembuskan napas terakhirnya karena suatu penyakit. Rupanya ia sudah lama menderita kanker otak. Percakapan kami hari itu ditujukannya sebagai ucapan pamit. Sayang, aku terlambat menyadarinya. Harusnya waktu itu aku bisa membaca arti tatapan matanya. Harusnya waktu itu aku sudah cukup sadar akan airmata yang jatuh dari pelupuk matanya. Tapi sayangnya tidak demikian.

Dan sejak saat itu, aku tidak pernah bisa melupakannya. Tidak pernah bisa melupakan Nara. Percakapan kami yang kupikir hanyalah dialog biasa, ternyata mengandung makna mendalam. Nara mengucapkan pamitnya lewat dialog kami hari itu. Pamit untuk tidak pernah kembali lagi. Dan aku telah berjanji untuk menunggunya selamanya, sampai kapanpun. Meski aku tau, ia tidak akan pernah datang kembali.

Hari ini, ketika aku sudah bukan lagi remaja. Aku masih berada di sini. Berusaha menepati janji yang sudah kuikrarkan sendiri. Rambut panjang, tangan cokelat, dan tubuh kekarku akan terus menunggu sesuatu. Sesekali wajah keriputku akan melengkungkan senyum getir. Aku tidak akan pernah bisa mengkhianati janjiku. Dan jika aku bisa, aku akan sangat menyesal melakukannya. Biarlah aku terus menunggu Nara disini. Sampai tiba saatnya Tuhan memerintahkanku untuk pulang. Aku akan setia menunggu waktu itu. Waktu ketika batas usiaku telah habis. Aku akan sangat bahagia meninggalkan dunia dan segala isinya ini—seluruh alam. Dan aku akan berjumpa dengan cinta pertamaku. Cinta sejati.